Tepat Waktu

Sepulang kantor pas kebetulan saat itu weekend, aku naik kereta dari Surabaya Gubeng menuju ke Malang, lokasi keberangkatan memang dekat sama kantor, jadi sebenernya transportasi paling murah dan tidak membuat capek ya naik kereta, kecuali naik kereta dari Jember sampe Merak. Selain mengakibatkan pantat melebar, sendi kaki kaku-kaku , badan pasti gempooor ber-jam-jam duduk di kereta (bahkan bisa seharian). Efek positif yang didapat cuma kita bisa berlatih sabar… sabar… dan sabar….

Kembali ke kantor, maksudnya kembali ke inti cerita, perjalanan Surabaya – Malang naik kereta Penataran membutuhkan waktu 2,5 jam (jadwal tersebut belum termasuk apabila terlambat). Namanya juga naik kereta kelas ekonomi, ya pasti ngalah sama kereta kelas Bisnis atau Eksekutif. Padahal kita diajarkan untuk selalu mengalah apabila terjadi perselisihan (dalam hal ini persilangan), tapi ya Indonesia, yang ngalah ya orang-orang kecil yang naik kelas Ekonomi. Beruntungnya sekarang Pakai AC (yang kadang beberapa kasus suka mati atau ga dingin), dan tempat duduknya teratur, coba kita kembali ke 8-10 tahun yang lalu, pada saat itu klo ga karena murah, orang-orang pasti ga akan mau naik kereta.

Kembali lagi ke kereta yang aku naiki menuju Malang, problem kereta terlambat pasti pernah dialami oleh semua orang yang sering naik kereta, minimal terlambat 10 menit dari waktu kedatangan (terutama kelas ekonomi). Pas dijemput di stasiun kedatangan, kali ini Vita ga terlambat jemput lagi. Wah betapa bahagianya (lebay), kebetulan sebelum jemput ke Stasiun, dia main dulu ke temennya di daerah kampus UMM, trus lanjut menuju ke stasiun. Malah dia yang nunggui karena keretaku telat sampe di Malangnya (sekitar 30 menit lebih lambat daripada jadwal yang seharusnya).

Ini merupakan pencapaian kedua Vita buat bisa jemput tepat waktu. Sepertinya petuah-petuahku yang panjang (baca: ngomel) yang selalu didengarnya ternyata masuk juga ke telinganya, tak lagi ‘hanya lewat’. I appreciate it, jadi aku videoin detik-detik berharga saat aku dateng ke lokasi penjemputan (hah?). Video berdurasi 5 detik ini sungguh mengharukan, tak percaya? aku pun tidak.

Semoga ini menjadi awal kamu selalu tepat waktu ya…. 😉

 

 

Travelling ke Lombok Bareng Calon Istri

Wah, gawat, awalnya mau nge-edit isi tulisan blog dengan judul ini, yang terjadi malah ilang semua isinya, aneh!

Jadi di post ini, aku mau ceritain soal liburan ke Lombok tahun 2016 kemarin. tapi kali ini agak berbeda karena ada Calon Istriku, Vita, yang ikut ke Lombok, untuk pertama kalinya aku jalan ke Lombok bareng keluarga + Calon Istri, dan Vita pun juga pertama kali ke Lombok + bareng pacar.

Buat lengkapnya bisa liat VLOG Travelling di bawah ini.

Take a Seat and Relax at Gili Meno – Lombok, Nusa Tenggara Barat

Setelah Hampir Setahun tidak memproduksi Video untuk Tyoo Setiadi Media di Channel Youtube, kali ini Tyoo Setiadi Media memberikan suasana yang berbeda. Hanya berbekal Kamera 13 MP Asus Zenfone 6, liburan kali ini kembali ke Lombok namun dengan destinasi yang berbeda.

Kali ini kita berada di Gili Meno, salah satu Gili kedua di antara Gili Terawangan dan Gili Air. Liburan Natal dan Tahun Baru adalah saat yang tepat untuk menghabiskan waktu di Pulau yang sedang banyak dibicarakan oleh banyak orang.

Setelah gagal meng-edit video di Papandayan 2 tahun yang lalu, kali ini saya membuat video dengan ala-ala dokumentasi namun penuh akan pengambilan gambar ala cinematografi. Kekurangannya satu, kuat di kamera namun lemah di equipment pendukung, seperti pencahayaan, tripod, crane, drone dll. saya harap ini bisa mengisi kekosongan Blog saya sekaligus lebih menggali hobby saya di bidang videografi, cinematografi dan fotografi.

Sekali lagi, selamat menyaksikan.

Wanita yang Tidak Boleh Dijadikan Istri

Image       Image

ADA begitu banyak wanita di dunia ini. Rasululullah SAW sudah memberikan arahan kepada kita bagaimana harus memilih wanita yang boleh didekati dan dijadikan pendamping. Selain kesederhanaannya menghadapi dunia, juga harus mampu menjadi bagian yang melengkapi sang suamin. Namun, selain itu, ternyata ada juga wanita dengan kriteria yang tak boleh didekati dan bahkan dijadikan istri. Siapa saja mereka?

Berikut ini adalah kriteria wanita yang harus dijauhi oleh pria, dan jangan jadikan sebagai istrinya:

1. Wanita “Ananah” : wanita yang banyak mengeluh. Apa yang diberi atau dilakukan suami untuk rumah tangganya semua tidak suka dan tidak berpuas hati.

2. Wanita “Mananah” : wanita yang suka meniadakan usaha dan jasa suami, akan tetapi sebaliknya menepuk dada dialah yang banyak berkorban untuk membangun rumah tangga. Dia suka mengungkit-ungkit apa yang dilakukan untuk kebaikan rumah tangga. Biasanya wanita ini bekerja atau berkedudukan tinggi dan bergaji besar.

3. Wanita “Hananah” : Menyatakan kasih sayangnya kepada suaminya yang lain (bekas suaminya dahulu)yang dikawininya sebelum sekarang, atau kepada anak dari suaminya yang lain, dan wanita ini berangan-angan mendapatkan suami yang lebih baik dari suami yang ada. Dalam kata lain wanita sebegini tidak bersyukur dengan jodohnya itu. Wanita sebegini yang mengkufuri nikmat perkahwinan. Dia juga merendahkan kebolehan dan kemampuan suaminya.

4. Wanita “Hadaqah” : melemparkan pandangan dan matanya pada tiap sesuatu, lalu menyatakan keinginannya utk memiliki barang itu dan memaksa suaminya untuk membelinya, selain itu wanita ini suka ikut nafsunya. Wanita seperti ini membuat pusing kepala lelaki. Dia ingin apa saja dia mau. Dia suka membandingkan dirinya dengan diri orang lain. Suka menunjuk-nujuk.

5. Wanita “Basaqah” : ada 2 makna:
a. Pertama : wanita seperti ini suka bersolek dan menghiaskan diri. Dia menghias diri bukan untuk suaminya tetapi untuk ditujukkan kepada dunia. Suka melawan. Uangnya dihabiskan untuk membeli make-up, kasut dan barang kemas. Wanita seperti ini juga sangat suka dipuji-puji. Kalau dia kebetulan menjadi isteri orang ternama dan menjadi pula ketua dalam kumpulan itu, orang lain tidak boleh mengungguli dirinya.

b. Kedua: dia marah ketika makan, dan tidak mau makan kecuali dipisah dengan yang lain dan disendirikan bagiannya.

6. Wanita “Syadaqah” : Wanita yang banyak bicara tentang perkara yang sia-sia dan lagi membisingkan sekitarnya.

[Sumber dari Ihya Ulumuddin – Imam Al Ghazali]

Source : dengan sedikit tambahan tanpa mengurangi atau menambahkan isi pokok permasalahan http://www.islampos.com/6-wanita-yang-tak-boleh-dijadikan-istri-106143/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=6-wanita-yang-tak-boleh-dijadikan-istri

Kontrak Baku, Suatu Intimidasi yang Dibenarkan?

Jabat Tangan Kontrak

Jabat tangan Kontrak

Standar kontrak atau yang biasa kita kenal sebagai kontrak baku banyak kita temukan di keseharian kita. Kontrak baku ini biasanya kita temukan apabila kita bertransaksi yang berkaitan dengan kontrak lisensi, kontrak keagenan, kontrak waralaba dengan perusahaan besar atau saat kita harus menandatangani kontrak kerja antara kita dengan perusahaan yang mempekerjakan kita. Selain itu, setiap transaksi di bank atau saat kita membuka rekening baru di bank manapun, menjadi anggota baru suatu badan perkreditan, saat kita akan membuka transaksi dalam investasi emas, atau saham di pasar modal, kita akan selalu menemukan kontrak baku ini.
Pertanyaannya adalah, apakah kontrak baku ini suatu kontrak yang sah? Beberapa pertanyaan lain muncul mengikuti pertanyaan pertama terkait dengan keabsahan kontrak baku. Seperti, apakah itu bukan suatu intimidasi kepada kita yang ingin bertransaksi namun seolah kita tidak dalam posisi tawar yang sama. Padahal ini suatu perjanjian, suatu kontrak dimana terdapat peracangan kontrak terlebih dahulu, apabila perlu didahului dengan suatu MoU (Memory of Understanding). Maka, apakah kontrak baku yang sering kita temui itu dibenarkan oleh hukum?
Dalam transaksi nasional maupun internasional seringkali kita temui bentuk-bentuk kontrak standar. Kontrak standar dapat dibuat oleh pemerintah, kontrak-kontrak ini masuk dalam apa yang dinamakan Lex Contractus. Lex Contractus atau hukum kontrak yang berlaku dalam suatu Negara sifatnya adalah public. Contoh kontrak standar atau kontrak baku yang termasuk dalam lex contractus adalah kontrak-kontrak di bidang sumber daya alam, misalnya kontrak di bidang perminyakan. Contohnya kontrak Production Sharing Contract.
Terdapat sarjana yang mempermasalahkan keabsahan kontrak baku ini. Karl Lliewelyn misalnya yang mempertanyakan tidak adanya kesepakatan para pihak. Selain dibuat oleh Negara, kontrak-kontrak standar juga dapat dibuat oleh organisasi-organisasi internasional (dalam lingkup hukum kontrak internasional). Organisasi non pemerintah ini antara lain contohnya adalah ICC (International Chamber of Commerce)yang mengeluarkan standar kontrak termasuk syarat-syarat (terms) dalam hukum kontrak international yang direkomendasikan agar digunakan oleh pengusaha dunia. Contoh organisasi lainnya adalah FIDIC (Federation Internationale des Ingenieurs-Conseil) atau The International Federation on Consulting Engineers yang mengeluarkan bentuk kontrak standar dalam bidang pekerjaan kontruksi (Internasional).
Begitu pula kontrak-kontrak di Indonesia yang lingkupnya bukan dalam ranah internasional, seperti perjanjian dalam pembukaan rekening (account) baru, pembelian produk software yang harus mengikuti terms and aggrement dari produsen, perjanjian investasi saham di pasar modal dan lain sebagainya. Sebenarnya, dengan adanya Lex Contractus, kita tak perlu khawatir dengan adanya kontrak baku itu sendiri, karena kontrak baku bukanlah suatu alat intimidasi karena seolah-seolah tak ada kesepakatan antara para pihaknya untuk merundingkan isi daripada perjanjian tersebut. Meskipun begitu tak menutup kemungkinan kita untuk merundingkan kembali isi dari perjanjian tersebut sebelum menandatanganinya. Kontrak sendiri memliki prinsip otonomi para pihak, dimana artinya adalah otonomi, kewenangan, atau kehendak bebas para pihak untuk menentukan bentuk dan muatan isi kontrak yang akan mereka negosiasi, rancang, revisi dan sepakati. Kebebasan ini hanya dibatasi oleh hukum nasional (lex contractus) dari Negara tempat perbuatan hukum membuat kontrak itu dibuat. Prinsip ini ddikemukakan oleh Cf. William Fox dengan memberikan istilah twin Principle (prinsip otonomi para pihak dan prinsip resiprositas).
Kontrak-kontrak yang sering kita temui dalam setiap transaksi tidak mungkin ada yang salah karena kontrak meskipun bebas harus juga tunduk pada peraturan yang berlaku. Tidak mungkin suatu perjanjian yang sah melanggar ketentuan Negara tempat perbuatan tersebut dilaksanakan. Hal ini juga terkait dengan syarat sahnya perjanjian dalam pasal 1320 BW yaitu adanya kesepakatan, para pihaknya yang cakap hukum, adanya hal tertentu dan suatu sebab yang halal. Contoh kontrak yang tidak sah adalah perjanjian jual beli ganja. Contoh kontrak baku yang tidak sah bisa kita lihat pada perjanjian transaksi jual beli saham di pasar modal antara pialang dengan nasabah yang isi kontrak yang melanggar ketentuan hukum nasional.
Hanya biasanya, kita tidak acuh terhadap kontrak baku ini dan melewatinya dengan menandatanginya saja. Kita harus lebih berhati-hati meskipun Negara melindungi para pihak yang dirugikan dalam suatu perjanjian. Kita harus tetap mengecek ulang isi kontrak, nilai nominal bila ada, penyelesaian hukumnya dan lain sebagainya. memang kontrak ini sulit untuk dihindari penggunaannya, karena memang para pihak menghendaki demikian di samping bisnis sendiri yang menghendaki tidak berlarut-larutnya perumusan kontrak.
Maka sampai pada kesimpulan bahwa, kontrak baku di Indonesia memang dibenarkan adanya namun sebatas pada mengikuti hukum yang berlaku pada hukum nasional. Apabila tidak memenuhi sayarat perjanjian atau tidak mengikuti hukum nasional yang berlaku, kita dapat mengajukan gugatan ke pengadilan terkait dengan klausul yang melanggar hukum tersebut.
Saran bagi anda yang berhadapan dengan kontrak baku seperti ini, jangan langsung menandatangani kontrak baku, teliti seteliti mungkin isi kontrak, terlebih lagi pada nilai nominal, jatuh tempo pembayaran, penyelesaian hukum dan hal-hal pokok lainnya. Agak sedikit memakan waktu, namun itu adalah hak anda untuk memeriksa isi kontrak baku. Kehati-hatian ini sebanding dengan apa yang akan kita hadapi nanti apabila terdapat masalah terkait kontrak tersebut.

Sumber:

Prof. Huala Adolf, Perancangan Kontrak Internasional, Keni Media, Bandung, 2011

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

http://www.iccbwo.org

http://fidic.org