Kontrak Baku, Suatu Intimidasi yang Dibenarkan?

Jabat Tangan Kontrak

Jabat tangan Kontrak

Standar kontrak atau yang biasa kita kenal sebagai kontrak baku banyak kita temukan di keseharian kita. Kontrak baku ini biasanya kita temukan apabila kita bertransaksi yang berkaitan dengan kontrak lisensi, kontrak keagenan, kontrak waralaba dengan perusahaan besar atau saat kita harus menandatangani kontrak kerja antara kita dengan perusahaan yang mempekerjakan kita. Selain itu, setiap transaksi di bank atau saat kita membuka rekening baru di bank manapun, menjadi anggota baru suatu badan perkreditan, saat kita akan membuka transaksi dalam investasi emas, atau saham di pasar modal, kita akan selalu menemukan kontrak baku ini.
Pertanyaannya adalah, apakah kontrak baku ini suatu kontrak yang sah? Beberapa pertanyaan lain muncul mengikuti pertanyaan pertama terkait dengan keabsahan kontrak baku. Seperti, apakah itu bukan suatu intimidasi kepada kita yang ingin bertransaksi namun seolah kita tidak dalam posisi tawar yang sama. Padahal ini suatu perjanjian, suatu kontrak dimana terdapat peracangan kontrak terlebih dahulu, apabila perlu didahului dengan suatu MoU (Memory of Understanding). Maka, apakah kontrak baku yang sering kita temui itu dibenarkan oleh hukum?
Dalam transaksi nasional maupun internasional seringkali kita temui bentuk-bentuk kontrak standar. Kontrak standar dapat dibuat oleh pemerintah, kontrak-kontrak ini masuk dalam apa yang dinamakan Lex Contractus. Lex Contractus atau hukum kontrak yang berlaku dalam suatu Negara sifatnya adalah public. Contoh kontrak standar atau kontrak baku yang termasuk dalam lex contractus adalah kontrak-kontrak di bidang sumber daya alam, misalnya kontrak di bidang perminyakan. Contohnya kontrak Production Sharing Contract.
Terdapat sarjana yang mempermasalahkan keabsahan kontrak baku ini. Karl Lliewelyn misalnya yang mempertanyakan tidak adanya kesepakatan para pihak. Selain dibuat oleh Negara, kontrak-kontrak standar juga dapat dibuat oleh organisasi-organisasi internasional (dalam lingkup hukum kontrak internasional). Organisasi non pemerintah ini antara lain contohnya adalah ICC (International Chamber of Commerce)yang mengeluarkan standar kontrak termasuk syarat-syarat (terms) dalam hukum kontrak international yang direkomendasikan agar digunakan oleh pengusaha dunia. Contoh organisasi lainnya adalah FIDIC (Federation Internationale des Ingenieurs-Conseil) atau The International Federation on Consulting Engineers yang mengeluarkan bentuk kontrak standar dalam bidang pekerjaan kontruksi (Internasional).
Begitu pula kontrak-kontrak di Indonesia yang lingkupnya bukan dalam ranah internasional, seperti perjanjian dalam pembukaan rekening (account) baru, pembelian produk software yang harus mengikuti terms and aggrement dari produsen, perjanjian investasi saham di pasar modal dan lain sebagainya. Sebenarnya, dengan adanya Lex Contractus, kita tak perlu khawatir dengan adanya kontrak baku itu sendiri, karena kontrak baku bukanlah suatu alat intimidasi karena seolah-seolah tak ada kesepakatan antara para pihaknya untuk merundingkan isi daripada perjanjian tersebut. Meskipun begitu tak menutup kemungkinan kita untuk merundingkan kembali isi dari perjanjian tersebut sebelum menandatanganinya. Kontrak sendiri memliki prinsip otonomi para pihak, dimana artinya adalah otonomi, kewenangan, atau kehendak bebas para pihak untuk menentukan bentuk dan muatan isi kontrak yang akan mereka negosiasi, rancang, revisi dan sepakati. Kebebasan ini hanya dibatasi oleh hukum nasional (lex contractus) dari Negara tempat perbuatan hukum membuat kontrak itu dibuat. Prinsip ini ddikemukakan oleh Cf. William Fox dengan memberikan istilah twin Principle (prinsip otonomi para pihak dan prinsip resiprositas).
Kontrak-kontrak yang sering kita temui dalam setiap transaksi tidak mungkin ada yang salah karena kontrak meskipun bebas harus juga tunduk pada peraturan yang berlaku. Tidak mungkin suatu perjanjian yang sah melanggar ketentuan Negara tempat perbuatan tersebut dilaksanakan. Hal ini juga terkait dengan syarat sahnya perjanjian dalam pasal 1320 BW yaitu adanya kesepakatan, para pihaknya yang cakap hukum, adanya hal tertentu dan suatu sebab yang halal. Contoh kontrak yang tidak sah adalah perjanjian jual beli ganja. Contoh kontrak baku yang tidak sah bisa kita lihat pada perjanjian transaksi jual beli saham di pasar modal antara pialang dengan nasabah yang isi kontrak yang melanggar ketentuan hukum nasional.
Hanya biasanya, kita tidak acuh terhadap kontrak baku ini dan melewatinya dengan menandatanginya saja. Kita harus lebih berhati-hati meskipun Negara melindungi para pihak yang dirugikan dalam suatu perjanjian. Kita harus tetap mengecek ulang isi kontrak, nilai nominal bila ada, penyelesaian hukumnya dan lain sebagainya. memang kontrak ini sulit untuk dihindari penggunaannya, karena memang para pihak menghendaki demikian di samping bisnis sendiri yang menghendaki tidak berlarut-larutnya perumusan kontrak.
Maka sampai pada kesimpulan bahwa, kontrak baku di Indonesia memang dibenarkan adanya namun sebatas pada mengikuti hukum yang berlaku pada hukum nasional. Apabila tidak memenuhi sayarat perjanjian atau tidak mengikuti hukum nasional yang berlaku, kita dapat mengajukan gugatan ke pengadilan terkait dengan klausul yang melanggar hukum tersebut.
Saran bagi anda yang berhadapan dengan kontrak baku seperti ini, jangan langsung menandatangani kontrak baku, teliti seteliti mungkin isi kontrak, terlebih lagi pada nilai nominal, jatuh tempo pembayaran, penyelesaian hukum dan hal-hal pokok lainnya. Agak sedikit memakan waktu, namun itu adalah hak anda untuk memeriksa isi kontrak baku. Kehati-hatian ini sebanding dengan apa yang akan kita hadapi nanti apabila terdapat masalah terkait kontrak tersebut.

Sumber:

Prof. Huala Adolf, Perancangan Kontrak Internasional, Keni Media, Bandung, 2011

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

http://www.iccbwo.org

http://fidic.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s